Oleh: zelyindahan | 7 Oktober 2009

MENGATUR SUARA SAAT SHALAT

MENGATUR KERAS DAN PELANNYA SUARA SAAT SHALAT

Pada suatu ketika Rasulullah keluar dari rumah beliau dan mendapati Abu Bakar sedang melakukan shalat malam dengan suara pelan. Dan Rasulullah juga mendapati Umar sedang shalat malam dengan suara keras.

Ketika Nabi bertanya pada keduanya, Abu Bakar menjawab, katanya Allah sudah mendenar meski dia bersuara pelan. Sementara Umar bersuara keras karena ingin agar orang-orang bangun dan melaksanakan shalat malam juga.

Teman-teman, ternyata dari kedua perilaku sahabat Nabi tersebut semuanya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Lho kok bisa?? Ya, Karena Rasulullah memerintahkan pada Abu Bakar untuk bersuara tidak terlalu pelan dan memperingatkan Umar agar jangan terlalu keras.

Selanjutnya…. apa akibatnya??? Ternyata kercerdasan mereka setelah itu meningkat. Karena Abu Bakar tadinya hanya berdkwah melalui perbuatannya. Akhirnya dia bisa juga dikenal karena pandai berpidato.

Sementara Umar, pada awalnya dakwahnya kepada orang non Islam belum berhasil. Kalau kalian ingat, tabiat Umar bin Khathab memang terkenal garang. Namun setelah dia memelankan suara shalatnya yang keras, Umar berhasil juga jadi pendakwah ulung. Tak terhitung berapa banyak orang yang berhasil di Islamkan olehnya.Dari Afrika Utara sampai Asia Tengah. Dari Persia sampai Timur Mediterania. Bahkan saat berkunjung di Jerussalem, Umar ditawari oleh si Pater untuk shalat di Gereja Resurrection. Wuahh…. hebat sekali bukan. Coba kalau dia masih bersuara keras, pasti tidak akan ditawari. Kalian juga bisa kok seperti mereka.

JAGA KETENANGAN SUASANA, YUK!

Ayo shalat berjamaah. Kalian tahu kan kalau shalat berjamaah itu pahalanya dua puluh tujuh kali daripada shalat sendirian? Wuah… banyak sekali. Mungkin bilangan satu bagi Allah itu sangat banyak atau sangat luas. Subhanallah… kita tidak sanggup membayangkan seberapa luas ya kalau dua puluh tujuh kalinya?

Kalau sedang shalat berjamaah, kita sebagai makmum harus tenang. Tidak boleh gaduh, ya teman-teman. Kalau gaduh nanti suara imam tidak terdengar. Hayooo… biasanya yang suka gaduh berada di barisan belakang tuh. Tapi setelah kalian tahu bahwa kegaduhan dapat mengganggu orang lain, nanti waktu shalat pasti kalian sudah bisa lebih tenang. Siiip… kalian memang cerdas.

BERHENTI SEJENAK SETELAH MELANTUNKAN SATU AYAT

Imam yang baik pasti tidak akan melantunkan bacaan shalat dengan kecepatan kilat. Kan gawat, kalau bacaannya terlalu cepat. Seperti balapan saja. Nanti makmumnya tidak bisa memahami bacaan tersebut.

Coba saja, salah satu diantara kalian membacakan cerita kepada yang lain dengan pengucapan cepat. Pasti teman-teman akan protes ya. “Jangan baca terlalu cepat dong. Aku nggak ngerti apa isi cerita itu.”

Nah, waktu shalat juga demikan, teman. Karena bacaan shalat itu harus di baca dengan jelas biar maknanya tidak berubah. Justru membaca lambat-lambat bisa lebih cerdas daripada yang membaca cepat. Kalau kalian mau beraktivitas seperti robot dalam shalat, ya gerakan cepat yang dipilih. Hahahaha…. Tapi kalau kalian mau jadi manusia seutuhnya yang dicintai sesama manusia dan Allah, maka jangan terburu-buru ya.

MENGUCAPKAN BACAAN SHALAT DENGAN FASIH

Bacaan yang fasih dapat membuat orang lain yang mendengar kita jadi bahagia. Kenapa? Karena bacaan kita kalau fasih kan enak didengar. Bagaimana supaya bacaan kita fasih??? Ya belajar mengucapkan dengan benar setiap huruf hijayyah. Sulit? Tidak kok. Kita hanya perlu menggunakan seluruh bagian mulut untuk menghasilkan suara yang sesuai. Soalnya kalau kita bacanya asal, nanti artinya jadi beda.

Sebaiknya kita belajar dengan orang-orang yang lebih pandai, seperti Ayah, Ibu, kakak, atau ustadz dan ustadzah yang mengajari kita mengaji. Mereka pasti dengan senang hati mau mengjarkan cara mengucapkan bacaan yang benar.

Namun sebelum teman-teman datang kepada mereka, ada baiknya membaca terlebih dahulu agar kalian juga semakin paham nantinya. Ini dia……

Huruf Tempat Keluarnya Huruf
ي  و   ا Rongga mulut
ھ Pangkal tenggorokan
ع  ح Pertengahan tenggorokan
غ  خ Ujung atas tenggorokan
ك   ق Pangkal lidah menyentuh langit-langit
ش  ج Pertengahan lidah menyentuh langit-langit (rongga mulut)
ض Tepi lidah menyentuh rahang atas
ن  ڶ   ر Bertemunya ujung lidah dengan langit-langit bagiian depan
ط  د   ت Bertemunya ujung lidah dengan dua gigi depan bagian atas
ظ   ذ   ث Ujung lidah berada pada dua gigi atas bagian depan secara tidak rapat. Suaranya menyerupai dz, zh, ts.
ص   س   ز Ujung lidah berada di langit-langit bagian depan di dekat gigi depan, suaranya menyerupai huruf sh, s, dan z.
ف   م   ب

KALAU PERLU BACA  MUSHAF AL-QURAN

Kadang-kadang kita suka lupa dengan bacaan shalat. Atau juga bisa hafalan surat-surat kita terbatas. Kadang kita merasa bosan karena hanya membaca surat yang itu-itu saja. Bagusnya sih kita hafal semua surat dalam Al Quran. Wow, kalian sangat hebat jika bisa demikian.

Tetapi, tahukan teman-teman bahwa ada cara yang lebih mudah bagi para pemula. Yaitu dengan membaca langsung dari Al Quran. Masalahnya adalah, tangan kita jadi tidak bisa bergerak-gerak karena memegangi Kitab. Membaca mushaf dalam shalat tidak menyalahi sunnah Nabi. Walaupun pada jaman dulu, Rasulullah tidak pernah membaca Al Quran dalam shalatnya. Jelas, dong. Beliau kan cerdas. Sudah hafal semua isi Quran!

BACA SEDIKIT LEBIH KERAS

Hei teman-teman…  coba bandingkan sapaan berikut :

  1. Halo teman-teman…. (suara berbisik)
  2. Halo teman-teman. (suara biasa)
  3. Halo teman-teman!! (suara menggertak)

Yang manakah yang kalian sukai? Kalau dipanggil dengan suara berbisik, apakah kalian bisa dengar jelas? Tentu tidak.

Coba yang ketiga. Coba temanmu memanggil dengan suara berteriak. Wah… wah… pastinya kamu akan kaget atau menutup telinga karena suara keras bisa memekakkan telinga. Apa kalian suka dipanggil dengan cara seperti ini? Tidak juga.

Sekarang coba yang kedua. Temanmu memanggilmu dengan suara yang agak keras tetapi tidak berteriak. Nah, yang ini baru nyaman di telinga.

Sama halnya dengan shalat. Melantunkan dengan suara sedikit lebih keras bisa membuat orang di sekitarmu menyimak ayat-ayat Allah. Itu bagus karena mereka pun bisa mendapat pahala juga. Selain itu kalian pun akan merasa lebih nyaman bila sedikit bersuara saat shalat. Daripada lafalnya diucapkan dalam hati…. bisa-bisa kalian malah keterusan melamunkan yang tidak jelas.

LANTUNKAN BACAAN SEINDAH-INDAHNYA

Teman-teman, kalau mau membaca Al Quran dengan baik kalian tidak perlu memiliki bakat menyanyi. Yang penting adalah pengaturan pada tinggi rendahnya nada. Untuk itu kalian mesti mengerti tajwidnya. Teman-teman pasti sudah pandai semua.

Untuk mengucapkan bacaan shalat yang berbahasa Arab, mungkin pengendalian terhadap tinggi rendahnya nada yang terpenting hanyalah pada pengucapan huruf-huruf qalqalah (qaf, tha, ba, jim, dal) di akhir kalimat. Atau diberi tanda sukun di tengah kalimat. Bacaan qalqalah itu dibaca memantul, teman. Misalnya : khalaqta, khathfata, ibliis, dan sebagainya.

Selain itu, irama saat melantunkan pun sebaiknya dibuat indah. Coba kalian dengar suara adzan atau orang sedang tilawah (membaca Al Quran). Subhanallah…. suaranya terdengar merdu bukan? Kalian juga bisa kok melantunkan seindah mereka. Yang harus kalian lakukan adalah : membaca panjang yang harus dibaca panjang, dan membaca pendek mana saja yang harus dibaca pendek.

Jadi, kalau ketemu dengan tanda baca yang panjangnya dua harakat, ya dibaca sepanjang dua harakat itu. Contohnya : bismillaahi. Pada kalimat ini, huruf lam dibaca panjang. Tapi kalau tidak ada tanda baca panjangnya seperti kalimat : Alhamdu, maka ya tidak boleh dipanjang-panjangkan. Oke, teman-teman!

Ada lagi teman-teman, kalau tanda panjangnya diikuti oleh hamzah, hendaknya kita membacanya lebih panjang sampai enam harakat. Contohnya :Sawaaaaaaun. Huruf wawu dibaca sangat panjang. Tapi kalau tanda baca panjang berada di akhir kata, lalu diikuti kata yang huruf awalnya hamzah, maka dipanjangkan tiga sampai empat harakat.

Selain itu, huruf Arab juga memiliki huruf istimewa lainnya berjumlah dua buah. Yaitu nun dan mim. Apa istimewanya?

Apabila huruf ini diberi tanda tasydid maka dibunyikan secara berdengung sepanjang dua harakat. Begitu juga jika mim yang diberi tanda sukun lalu bertemu dengan huruf mim di kata berikutnya.

Ada lagi, kalau nun diberi tanda sukun bertemu dengan mim, nun, wawu, dan ya. Maka huruf nun tersebut jadi lebur.

Nah, teman-teman untuk lebih jelasnya. Kalian belajar tajwid dengan pak ustadz dan bu ustadzah, ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: